Pada awal masuk Pondok Pesantren Assalam Mataram , saya (Nurul Azmi) sebagai seorang santri biasanya awal masuk pondok merasakan perasaan campur aduk. Ada rasa takut karena jauh dari orang tua, ada rasa rindu rumah yang sulit diungkapkan. Lingkungan baru dengan aturan ketat dan jadwal padat membuat hari-hari pertama saya sebagai santri terasa berat. Namun, di sinilah awal perjalanan saya sebagai santri ditempa untuk belajar mandiri dan menyesuaikan diri dengan kehidupan pondok.
Tahun pertama menjadi masa adaptasi saya sebagai santri. Saya sebagai santri belajar bangun lebih pagi dari biasanya, melaksanakan shalat berjamaah, menghafal dan mengikuti kegiatan yang ada di pondok, mengikuti pelajaran kitab. Selain itu, saya juga belajar hidup sederhana, berbagi kamar dengan teman-teman baru, dan saling tolong-menolong. Walaupun itu terasa sulit, namun pelan-pelan saya mulai terbiasa dengan semuanya.
Memasuki tahun kedua, rasa canggung dan kaku mulai hilang. Saya sudah lebih akrab dengan lingkungan pondok, guru, ustadz-ustadzah dan sesama teman. Saya mulai menemukan semangat dalam belajar, baik ilmu agama maupun pengetahuan umum. Selain itu, kepercayaan diri tumbuh saat saya mulai mengikuti kegiatan tahfidz dimana saya punya target hafalan dan saya harus menyetorkan hafalan saya kepada mustami’ , dari sini saya belajar arti dari tanggung jawab dimana saya punya tanggung jawab atas diri saya.
Tahun ketiga menjadi masa matang dalam kehidupan saya sebagai santri. Saya tidak lagi merasa berat menjalani kegiatan pondok, bahkan sudah bisa menikmati rutinitasnya. Hafalan semakin bertambah, pemahaman ilmu agama semakin dalam, dan ibadah pun semakin terjaga. Selain itu, pengalaman tiga tahun di pondok membuat saya lebih sabar, disiplin, dan mandiri. Persahabatan yang terjalin pun semakin erat, bagaikan keluarga kedua.
Setelah tiga tahun hidup di pondok, saya sebagai seorang santri menyadari bahwa pengalaman ini adalah bekal berharga untuk masa depan. Saya bukan hanya belajar ilmu, tetapi juga nilai kehidupan: kesederhanaan, kemandirian, kebersamaan, dan ketakwaan. Semua pelajaran itu menjadi pondasi untuk menghadapi tantangan di luar pondok. Hidup sebagai santri adalah proses panjang yang mengubah diri saya menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bermanfaat bagi saya sendiri dan orang lain. (Penulis: Nurul Azmi, Siswa SMKN 2 Kuripan Lombok Barat)
